Tuesday, July 29, 2014
Ebuset, baru tau gw Mandala “termehek-mehek” Shoji calon legislatif dapil sini! – View on Path.

Ebuset, baru tau gw Mandala “termehek-mehek” Shoji calon legislatif dapil sini! – View on Path.

Soto kerbau khas Kudus, samping Menara Kudus – View on Path.

Soto kerbau khas Kudus, samping Menara Kudus – View on Path.

Siblings – View on Path.

Siblings – View on Path.

With my 9-year-old cousin Aldi – View on Path.

With my 9-year-old cousin Aldi – View on Path.

Thought via Path

"Cik icak icuk icak icuk kereta berhenti.. Cik icak icuk icak icuk kereta berangkat…"sings a guy on stage. I almost rolled on the floor hearing him. – Read on Path.

Monday, July 28, 2014
Only in Pantura, a duet of tightly clad ladies - without an expression of guilt or shame - sing a song of Arabic lyric adapted from sholawat or praises for Prophet Muhammad. Amazing. – View on Path.

Only in Pantura, a duet of tightly clad ladies - without an expression of guilt or shame - sing a song of Arabic lyric adapted from sholawat or praises for Prophet Muhammad. Amazing. – View on Path.

Thought via Path

It is just once in a year, only once in a year, I let some people suppress my freedom of fashion! – Read on Path.

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

tabardSebelumnya: “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)”

Kepenulisan Kreatif sebagai Disiplin Ilmu Akademis

Carl Seashore, seorang psikolog yang tertarik dengan pengukuran bakat musik dan skolastik, mengepalai Graduate College (semacam Program Master/ S2) saat 1922 Iowa menjadi kampus besar pertama di AS yang bersedia menerima karya-karya sastra kreatif untuk gelar lanjutan, bukan hanya…

View On WordPress

Midwest, bagian barat tengah negeri Paman Sam, di telinga saya lebih lekat dengan cerita-cerita koboi. Di sini, kita bisa temukan sebuah bagian suku dari masyarakat Indian Sioux. Iowa juga bisa mengacu pada sejenis dialek dari bahasa Chiwere yang dipakai oleh warga asli Iowa. Ketertarikan saya pada Iowa bermula setelah saya menyaksikan penuturan dua novelis top AS John Irving dan Anne Patchett yang mengatakan karir mereka sebagai sastrawan bermula di sini. Seperti apa Iowa? Dan mengapa sampai anak-anak muda yang ingin menjadi sastrawan
berduyun-duyun ke sini?
Saya belum bisa mendapatkan jawabannya secara langsung karena belum pernah datang ke Iowa langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di sana tetapi untungnya, saya menemukan sebuah dokumenter bagus berjudul “City of Literature” di YouTube mengenai Iowa dan perkembangannya sampai dijuluki sebagai ibukotanya sastra di dunia.
Surganya para penulis, itulah Iowa. Kota ini memiliki program pendidikan dalam penulisan kreatif (creative writing ) yang dikenal sebagai The Iowa Writers’ Workshop. Selama lebih dari 4 dekade, tempat ini telah disambangi oleh para penulis tersohor dari berbagai negara. Alumni dan pengajar The Iowa Writers’ Workshop total telah mengantongi 40 anugerah kepenulisan bergengsi Pulitzer Prize. Bagaimana Iowa bisa menjelma seperti sekarang? Berikut kisah perjalanannya.

Dari Pendatang yang Melek Sastra
Di pertengahan tahun 1800-an, penulisan kreatif sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah disiplin ilmu yang patut dipelajari secara terpisah dalam lembaga pendidikan akademis yang formal.
Seperti dituturkan oleh Loren Glass (Profesor Bahasa Inggris), University of Iowa didirikan pada tahun 1847. Saat itu, belum diajarkan penulisan kreatif. Kebebasan mengutarakan pendapat belum diwujudkan dalam jiwa sebuah institusi.Kampus itu lebih bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warganya.Di sini adalah tempat diproduksinya para dokter, pengacara, insinyur, dan kaum profesional terdidik yang dibutuhkan oleh masyarakat di “frontier state”, atau negara-negara bagian di AS yang masih sukar dijangkau atau masih jauh dari pusat keramaian seperti New York atau Boston yang banyak dikenal sebagai kota niaga dan pelabuhan yang hiruk pikuk.
Awalnya, bahasa dipelajari sebagai sebuah subjek studi ilmiah semata, bukan sebagai sebuah disiplin ilmu kreasi atau seni di kampus ini. Namun, dalam perkembangannya menjadi makin luas adari lingkup ilmiah tersebut.
Sementara itu, Mary Bennett dari State Historical Society of Iowa menyatakan akar ketertarikan kuat masyarakat kota Iowa pada dunia susastra adalah para kaum penjelajah kulit putih pertama saat masa-masa awal berkembanganya Iowa yang menunjukkan minat yang tinggi dalam belajar secara mandiri. Mereka memiliki banyak perpustakaan pribadi di rumah dan cakupan koleksinya tidak melulu kajian relijius tetapi juga kisah-kisah sastra klasik. Mereka membaca Injil, karya-karya Shakespeare hingga karya keluaran para sastrawan lokal AS. Sejumlah pegiat sastra AS dan Inggris pernah menyambangi Iowa. Tercatat ada Mark Twain yang mengunjungi Iowa pada tahun 1867 untuk memberikan ceramah, kemudian ada Ralph Waldo Emerson yang berkunjung di tahun yang sama. Sastrawan eksentrik dan flamboyan asal Inggris Oscar Wilde penulis “The Importance of Being Earnest” ini juga pernah mampir tahun 1882. Sastra asli yang berkembang di Iowa berkisah lebih banyak mengenai kisah eksplorasi kaum pendatang ini di daerah baru yang asing dan masih kosong.

Masyarakat Sastra Iowa ‘Berkecambah’
Geliat sastra di Iowa mulai muncul saat para mahasiswa di kampus University of Iowa. Terbentuklah Zetagathian Literary Society, masyarakat penyuka sastra Iowa, yang mulai mengakar di lingkungan akademis. Apa yang dilakukan oleh para pegiat sastra muda ini ialah membaca karya-karya puisi klasik dan populer saat itu bersama-sama dalam satu ruangan.
Satu hal yang membedakan kota Iowa dari kota-kota lain dalam hal atmosfer pendidikan ialah aroma egaliter yang kental. Di Iowa, karena jauhnya mereka dari kampus-kampus berpengaruh seperti Harvard dan Yale yang berlokasi di Pesisir Timur, mereka dapat berkembang lebih unik dengan mengedepankan semangat persamaan atau egaliterianisme. Ambil contoh saja Polygon Club (sekitar tahun 1893), yang menampung para penyuka sastra tanpa memandang jenis kelamin. Di negara-negara bagian lain, kesempatan belajar yang setara semacam ini belumlah ada. Itulah mengapa Iowa termasuk istimewa. Di sini, para pria dan perempuan sama-sama mendapatkan peluang yang setara dalam membuktikan diri dan mengikuti perbincangan yang bermakna mengenai berbagai karya sastra yang mereka produksi sendiri.
Beberapa waktu kemudian, muncullah sebuah mata kuliah baru dalam katalog University of Iowa. Di musim semi 1897, “Verse Making” merupakan mata kuliah pertama yang bertema penulisan kreatif dalam bidang puisi. Pengampunya adalah Prof. George Cram Cook, yang warga asli Iowa dengan pendidikan dari Harvard University.
Cook dan rekan-rekannya masuk dan aktif dalam berbagai kegiatan klub-klub menulis yang bertebaran di Iowa. Banyak klub menulis tersebut yang didorong perkembangannya oleh sejumlah tenaga pengajar berpengalaman University of Iowa seperti Edwin Ford Piper (pengajar Creative Writing tahun 1905-1919), Frank Luther Mott (pengajar jurnalisme dan bahasa Inggris tahun 1921-1942) dan Clark Fisher Asley (pimpinan Jurusan Bahasa Inggris tahun 1899-1917). Para pengajar tersebut menjadi model-model pelaksana dan pencetus berbagai kegiatan lokakarya atau workshop kepenulisan.Selain Polygon Club, ada juga klub lain yang tak kalah menonjol, yakni Tabard Club yang dikenal tahun 1915. Yang menjadi ciri khas dari semua klub kepenulisan di Iowa ialah tema-tema karya sastra mereka yang fokus pada regionalitas.
Karya-karya sastra yang dihasilkan seolah ingin membedakan diri dari arus mainstream atau aliran sastra yang sudah mapan di Boston, New York dan sastra yang berkembang di daerah Pesisir Timur AS.
John Towner Frederick adalah orang yang percaya bahwa Iowa akan bisa menjadi sebuah tempat yang tiada duanya bagi kalangan sastrawan karena karakter Midwest yang kuat. Frederick yang juga mengajar di University of Iowa ini mewujudkan ambisinya dengan menerbitkan sebuah majalah bernama “Midland” di tahun 1915. Sosok lainnya yang setia dengan tema regionalitas ialah Benjamin Shambaugh, pengajar di Iowa sejak tahun 1900 hingga 1940. Mereka yakin bahwa Iowa juga harus mengangkat identitas mereka sendiri dalam karya-karya sastra mereka, tidak hanya menjiplak dari yang sudah populer di wilayah AS lainnya. Keteguhan Frederick dan Shambaugh dalam menunjukkan jati diri Iowa dalam sastra inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi Iowa untuk menduduki peran sebagai pusat perkembangan sastra yang tidak bisa diremehkan di negeri Paman Sam.

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1) Midwest, bagian barat tengah negeri Paman Sam, di telinga saya lebih lekat dengan cerita-cerita koboi. Di sini, kita bisa temukan sebuah bagian suku dari masyarakat Indian Sioux.

Panduan Hootsuite untuk Pemula

Bagi Anda yang ingin mempelajari bagaimana menggunakan platform manajemen akun jejaring sosial Hootsuite secara praktis dan efisien serta GRATIS, video tutorial ini tepat untuk memberikan sekilas gambaran mengenai caranya.